Berlokasi sekitar 27 Km dari kota Yogyakarta, Parangtritis merupakan salah satu dari pantai yang menarik di Yogyakarta. Pantai ini dapat dicapai dengan melalui desa Kretek atau rute yang lebih panjang, tetapi pemandangannya lebih indah yaitu melalui Imogiri dan desa Siluk.
Pantai Parangtritis adalah pantai yang landai, dengan bukit berbatu, pesisir dan berpasir putih. Selain terkenal sebagai tempat rekreasi, parangtritis juga merupakan tempat keramat. Banyak pengunjung yang datang untuk bermeditasi. Pantai ini merupakan salah satu tempat untuk melakukan upacara Labuhan dari Kraton Yogyakarta.
Komplek Parangtritis terdiri dari Pantai Parangtritis, Parangkusumo, dan Dataran Tinggi Gembirowati. Di Parangkusumo terdapat kolam permandian air panas (belerang) yang diyakini dapat menyembuhkan berbagai penyakit dalam. Kolam ini diketemukan dan dipelihara oleh Sultan Hamengku Buwono VII. Adanya komplek kerajinan kerang, hotel bertaraf Internasional (Queen of South), serta dokar wisata di Parangtritis ikut menyemarakkan pariwisata di wilayah ini.
Komplek yang termasuk kawasan ini yaitu: Petilasan Parangkusumo, Pemandian Parangwedang, Makam Syeh Maulana; Magribi, Makam Syeh Bela Belu, Makam Ki Ageng Selohening, Tempat Pelelangan Ikan (TPI) Depok, Gumuk Pasir (barchan).
JAM BUKA
TIKET MASUK
Sepeda motor : Rp 2.000,00
Mobil : Rp 3.000,00
KEGIATAN
- Labuhan
- Upacara Pisungsung
- Ziarah Malam
TIP & TRIK
- Pantai Parangtritis memiliki arus bawah yang kuat dan ombak yang besar. Oleh karena itu, tidak disarankan untuk berenang terlalu jauh dari bibir pantai untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan. Bila terjadi kecelakaan di wilayah pantai, segera hubungi tim SAR yang berada di menara pengawas.
- Ada banyak andong di Pantai Parantritis untuk menelusuri pantai ini lebih jauh.
Kota Gede, telah lama dikenal sebagai pusat kerajinan perak. Kota Gede, yang terletak sekitar 5 kilometer dari Yogyakarta ini, kadang disebut pula sebagai ibukota lama. Karena dulu tempat ini merupakan ibukota kerajaan Islam Mataram yang pertama, hingga tahun 1640, atau sebelum dipindahkan ke Desa Kerto, Plered, Bantul.
Rambling Through Kota Gede, atau Tlusup-tlusup Kota Gede, salah satu paket wisata yang ditawarkan Yayasan Kantil, mengajak wisatawan mengunjungi situs Kerajaan Mataram Islam.
Tur keliling ini diawali dengan mengunjungi komplek makam raja dan Masjid Besar Mataram. Masjid terbesar jaman Kerajaan Mataram ini masih berdiri kokoh, hingga kini.
Selanjutnya, wisatawan diajak melihat kompleks makam raja-raja Mataram. disinilah, Raja Pertama Mataram, Panembahan Senopati, disemayamkan. Kebanyakan orang yang datang ke kompleks makam, tujuannya untuk berziarah. Di lokasi ini, pengunjung harus menggunakan batik, pakaian tradisional Jawa. Pakaian tersebut disewakan di tempat ini.
Wisatawan juga tak diperkenankan mengambil gambar di dalam makam. Tampak abdi dalem Kerajaan Mataram, yang sudah turun temurun mengabdi, tengah berjaga di sekitar lokasi makam.
Tak jauh dari lokasi makam, terdapat Sendang Selirang, semacam kolam tempat pemandian raja dan ratu. Konon, di kolam ini hidup seekor bulus dan lele putih. Menurut kepercayaan masyarakat setempat, barang siapa yang melihat bulus tersebut muncul ke permukaan, maka keinginannya akan dikabulkan. Namun itu semua kini tinggal legenda belaka.
Diantara bangunan peninggalan sejarah tersebut, terdapat bangunan lain yang memperkuat daya tarik Kota Gede. Terdapat sedikitnya 100 rumah tradisional jawa, yang disebut joglo. Antara kampung yang satu dengan lainnya, dihubungkan oleh lorong-lorong sempit yang mirip labirin ini.
Melalui tur keliling situs Kerajaan Mataram dan sekitarnya, wisatawan kembali diajak mengenang kekuatan dan kejayaan Kerajaan Mataram Islam melalui sisa-sisa bangunan di kota tua, yang menyimpan kearifan masa silam. Sebuah kearifan yang melegenda.